Permasalahan Dibalik Menurunnya Angka Pengangguran

0
11

Oleh : Moh. Hamim Muzadi Abidi sebagai Mahasiswa STIE Mandala Jember
Jurusan Ekonomi Pembangunan

Badan Pusat Statistik (BPS) dalam unggahan disitusnya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dalam per Agustus 2018 angkanya 5,34% membaik 5,5% dari setahun terakhir. Meskipun secara keseluruhan pengangguran menurun, tetapi tingkat pengangguran di desa justru meningkat.

Meningkatnya tingkat pengangguran di pedesaan diakibatkan oleh menyusutnya jumlah pekerja pada sektor pertanian. Pada dasarnya pendapatan yang dihasilkan oleh pekerja di sektor pertanian menurun, oleh karena itu sedikit pekerja di sektor pertanian dan beralih ke sektor lain. Terkadang para pekerja di desa harus rela merantau ke kota untuk mecari pekerjaan yang layak.

“Fenomena ini sebetulnya wajar. Kalau ada transformasi ekonomi, seharusnya tenaga kerja pertanian ini berkurang. Tapi ini memberatkan perekonomian,” tutur Suhariyanto selaku Kepala BPS. Tingginya angka pengangguran di desa, juga bukan indikasi bahwa program padat karya tunai dari dana desa (cash for work) tidak berhasil. Menurutnya, program cash for work menitikberatkan pada pekerjaan konstruksi, bukan penggarapan sawah.

Dari 124,01 juta penduduk yang bekerja, lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan persentase penduduk yang bekerja khususnya pada Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (0,47%), Industri Pengolahan (0,21%), dan Transportasi (0,17%). Sementara lapangan pekerjaan yang mengalami penurunan yang paling banyak pada Pertanian (0,89%), Jasa Lainnya (0,11%), dan Jasa Pendidikan (0,05%).

TPT jika dilihat dari tingkat pendidikan, sumbangan paling banyak diberikan pada lulusan SMK yaitu sebesar 11,24% dibandingkan dengan tingkat pendidikan lain. Muhadjir Effendy mengatakan, angka pengangguran yang masih tinggi ini disumbang dari lulusan SMK yang belum mendapatkan program revitalisasi SMK.

Untuk solusinya, Kemendikbud beserta Kementerian Koordinator Perekonomian mengubah strategi pembelajaran yang sebelumnya Supply driven menjadi Demand driven. “Kita susun sesuai kemauan sendiri, reka-reka sendiri, seolah-olah inilah bidang yang akan diserap oleh dunia usaha dan dunia industri. Dan itu sekarang kita balik. Kita minta supaya pihak pengguna, pemanfaat lulusan SMK yang menentukan, mulai dari kurikulum dan juga proses pembelajaran,” jelas Mendikbud.

Dalam paparan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution perlunya Kemendikbud menekan penetapan standar pendirian SMK Baru. Dalam hal ini untuk mengurangi pengangguran pada tingkat pendidikan SMK. Dan juga melakukan pembenahan besar-besaran, “diperlukan komposisi yang baik antara kurikulum yang normatif, adaptif, dan produktif. Antara belajar di kelas, belajar praktik, dan magang di lapangan, juga harus diubah komposisinya. Ini tidak bisa dilakukan tanpa dukungan dari sektor industri. Oleh karena itu, hubungan yang baik dengan sektor industri haruslah baik, kata Darmin.

zvr
Your Reaction

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here