Ketika Ibuku Mulai Menua

0
36

Aku tau, di dunia ini tidak ada yang selamanya menetap, tidak ada yang selamanya bertatap, bahkan tidak semua yang dirasakan akan terucap. Seperti aku yang sekarang tinggal jauh dari ibuku. Setiap detik yang aku rasakan bersama ibu menjadi sangat berarti, setiap jarak yang aku rasakan tanpa ibu menjadi amat kubenci. Ibu, iya ibu. Malaikat tanpa sayap yang selalu menyediakan pundaknya untukku.

Wanita paruh baya yang sudah sangat sibuk menyadari bahwa dirinya sudah menua. Malaikat tanpa sayap yang akan menua dengan cantik di mata ayah dan anak-anaknya. Wanita paruh baya yang masih giat mencari uang untuk keluarga, menyeka keringat saat letih mendera, dan menahan air mata untuk menguatkan putrinya yang lemah. Seharusnya ibu marah ketika aku belum menuntaskan tugas-tugasku, seharusnya ibu marah ketika ayah tak memprioritaskan keluarga, seharusnya ibu marah ketika kakak dan adik bahkan pergi tanpa seizin ibu. Tapi, apa yang ibu lakukan sangatlah lembut di mataku. Ibu adalah wanita paling sabar yang pernah aku tau.

Selengkapnya klik di sini…

zvr
Your Reaction

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here